asromaasik

Serigala Ibu Kota

Totti The Last Gladiator

 

Bayi Totti

Bayi Totti pertama kali menghirup udara pada 27 September 1976, lima hari sebelum lahirnya Luiz Ronaldo, dua hari sebelum Andriy Shevchenko muncul ke dunia. Mitos sang gladiator bermula saat Enzo dan Fiorella mengajak putra keduanya yang baru berusia 10 bulan ini berlibur di pantai Adriatik. Tiba-tiba si bayi mencengkram kuat-kuat bola saat ingin diambil kakaknya, Riccardo.

Di usia lima tahun, bocah Totti meraih trofi pertamanya. Baru sembilan tahun hidup, nama Totti sudah menjadi buah bibir di Roma. Untuk itu, Fiorella selalu menguntit Totti ke mana pun termasuk di Trigoria, markas latihan AS Roma. Si ibu cemas bila musim dingin tiba. Ia tak sungkan menelpon pelatih Totti untuk memastikan anaknya tidak kedinginan.
Fiorella setengah mati memproteksi Totti. AC Milan pernah didampratnya setelah menawari kontrak, sekolah gratis dan rumah mewah. “Tak semeterpun Francesco keluar dari Roma! Camkanlah!” tutur Fiorella. Totti adalah anak mama, seperti seluruh anak lelaki Italia yang sampai kapanpun selalu dianggap bambino, anak kecil, oleh ibunya.

“Aku bisa terus hidup selama mungkin tanpa makanan, tanpa air, tanpa udara,”
kata Fiorella, “tetapi aku tak mampu bertahan barang semenitpun tanpa bambino-ku.” Tiada pria yang dikasihi sama besar oleh neneknya, ibunya, putrinya dan istrinya seperti Totti. Bukan cuma Milan, tapi seluruh klub top Italia jatuh hati pada Totti. Saat berkuasa kuat, Silvio Berlusconi pun tak kuasa memboyong gladiator Roma ke Milano. Bolehlah, Nesta bisa, tapi Totti? Musim demi musim, dan tiap calciomercato dibuka, mereka tanpa bosan terus merajuk ingin Totti.

Totti adalah Roma.
Sudah 13 tahun ia membelanya dan saling mencintai. Tak sekalipun ia punya pikiran pergi keluar Italia. Ia tak mau kehilangan masakan ibunya, tak mau kehilangan belaian istrinya. Maka dari itu, ia tak pernah mau belajar bahasa Inggris, Prancis atau Spanyol seperti halnya semua anggota Azzurri di Jerman 2006.
Lebih-lebih, ia tak mau kehilangan atmosfir Olimpico. Di sana, kaum Romanista selalu menyambut gladiatornya lewat orkestra dan prosesi mengagumkan, “Inilah dia, kapten kecintaan kita, sang kaisar Roma, Francesco… .Totttiiii! ” Dia adalah pria yang narcis, takut terlihat buruk sebab Totii selalu mendambakan bellezza, keindahan, di manapun. Di utara, pria yang terlihat tampan diidentikan dengan kelemahan intelejensia. Di selatan, lelaki dengan setelan keren dan perlente justru kebalikannya. Dan Totti adalah selatan. Ia berusaha agar tak berkeringat di lapangan. Apalagi menginjak rumput sembarangan atau berteriak-teriak, tapi selalu grogi di depan kamera televisi. Totti, kata filsuf olahraga kenamaan Mario Sconcerti dalam karya “La Differenza di Totti”, adalah fantastita Italia paling sempurna di dalam dan di luar lapangan. “Pikirannya simpel karena jarang membaca atau datang ke perpustakaan. Tapi semuanya itu akan berubah jika dia berada di lapangan.”

Disegani Kawan Maupun Lawan

Tiada satupun pesepakbola Italia yang merefleksikan jiwa Italia secara persis sebagaimana Francesco Totti. Di jiwa raganya sekarang ini bersemayam
inkarnasi Italia. Totti adalah Italia. Italia adalah Totti.

Sebuah Masserati hitam meluncur kencang melewati perempatan jalan di Roma,
tatkala lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. Tentu saja hal itu membuat kedua alis mata seorang polisi yang kebetulang nongkrong di sekitar situ naik drastis. Dengan motor gede bertuliskan Policia, ia mengejar sedan dan siap menilang sang pengendara setelah berhasil menghentikannya.Tapi hal itu urung terjadi. Begitu kaca mobil diturunkan, pak polisi ini malah terperangah. Pulpen yang dibawa untuk mencatat alasan untuk menilang, malah ia gunakan meminta tanda tangan si pengemudi Masserati yang langka ia temui, yang amat dipujanya. Dia adalah Francesco Totti, il capitano della Capitale, pemimpin dari Roma.

Tak satupun orang yang paling dipuja bak Julius Caesar di Roma selain kapten
tim ibukota AS Roma itu. Totti dicintai Romanista sekaligus disegani Laziale. Bahkan dalam kisah lain, seorang pengendara motor yang ditabrak Totti hingga cedera cukup parah, tak mau menuntut si pendosa kecuali meminta kostum nomor 10 yang katanya akan dibingkai.

Debut Sang Kapten

Gli Azzurri memberi debut Totti pada 10 Oktober 1998. Meski menjadi man of the match di final Euro-2000, tapi dia kecewa berat sebab Italia kalah menyakitkan dari Prancis. Ia kian sedih di Piala Dunia 2002 setelah diusir wasit Ekuador, Byron Moreno, yang berandil pada kekalahan Italia dari Korea Selatan. Dua tragedi ini kian membuat Totti frustrasi.

Stadion Dom Alfonso Henriques, Guimaraes, Portugal, 14 Juni 2004. Italia vs Denmark di penyisihan grup Piala Eropa. Di menit 48, Totti, si pemilik nomor 10 di Roma dan Azzurra, yang dijuluki Sang Gladiator, yang dipuja bak Kaisar Romawi, bikin dosa yang melanggar kepatutan dan juga sepakbola: meludahi wajah Christian Poulsen, gelandang Denmark. Totti meminta maaf pada bangsanya, bukan pada Poulsen. Tetapi terlambat. Gara-gara ulahnya, Italia gagal mengungguli Denmark. Media-media se-Eropa menyerangnya. “Totti, Unta Italia yang suka meludah!” UEFA menghukum Totti. Ia telah bikin malu negaranya, timnya dan dirinya. Kepada pendetanya, Don Fernando Altieri, ia mengakui kesalahannya seraya berjanji membuat itu sebagai dosa terakhirnya. Ia juga bersumpah akan menebus dosa pada Piala Dunia 2006. Di musim 2005/06, ia berlatih kesetanan, menolak wawancara dan menghindari kamera televisi. Totti ingin semuanya fokus sebab takut mimpinya sirna. Roma telah diberinya juara Italia. Tapi Italia sendiri? Ia menyadari sejarah Azzurra yang lancar di proses tapi macet di hasil.

Badai Cidera Mendera

Pada 19 Februari, kaki kiri Totti patah pada sebuah laga di Empoli. Muncullah prahara dan ketegangan nasional selama 113 hari, batas akhir iya atau tidaknya sang gladiator bisa tampil di Jerman. PM Berlusconi, yang
secara politis tak suka dengan Totti, mengunjunginya. Tapi secara pribadi Totti adalah pemain idolanya. Kepalsuan terkuak, kunjungannya tetap tak menyelamatkan kariernya. Berlusconi tumbang.

Italia selalu terpecah belah setiap pekan manakala Seri-A digelar. Utara vs selatan berarti kapitalis kontra sosialis, fasis lawan nasionalis atau kaya dan miskin. Konon, itulah yang membuat kemakmuran Italia bukan datang dari
semangat inovasi, tapi oleh kesabaran, catenaccio ekonomi.

Di saat cedera, Totti kian rutin bertemu ibunya di apartemen tua, di seberang kamar yang ditempati istri dan anaknya. Kekuatan keluarga adalah arwah Italia. Inilah yang ingin diubah harian La Stampa. “Azzurri harus belajar mencari kemenangan ketimbang lari ke rumah, mengadukan nasib dan menangis bersimpuh di depan ibunya.” Kepribadian Totti adalah tipikal Italia. Para lelaki eksebionis yang ingin menunjukan macho, kemaskulinan pada dunia dengan agresivitas. Seperti pria Italia umumnya, ia juga dijangkiti Pinocchio-complex sebab sering berkata,

“Segalanya berjalan lancar sebab kami adalah yang terbaik”.

Pinocchio-complex berandil meredupkan politik luar negeri Italia. Ia bersembunyi di setiap pria pesolek yang senang pamer seperti bebek yang bangga dengan ekornya. Sayang, buah yang dipetik terasa pahit. Sejak 14 Juni 2004, Azzurra menerima puncak hujatan yang mereka banggakan selama ini yang disimbolkan oleh Totti, si inkarnasi Italia. Totti adalah pemain kesukaan Roman Abramovich. Apa pun akan dilakukannya untuk memboyong superstar Italia itu ke Stamford Bridge. Namun milyuner Rusia itu pada 2004 malah menuai kekecewaan. “Aku tak pernah ingin main di Premiership sebab aku bukan penggemar sepakbola Inggris. Aku lebih menyukai
gaya Italia,” kata Totti apa adanya.

Menyelamatkan Sandera (Tawanan Perang Irak)

Pinocchio-complex tak selalu berujung negatif. Pada Februari 2005, tentara pemberontak di Irak menculik wartawati Giuliana Sgrena sehingga menggegerkan negeri. Tiba-tiba tanpa ada yang mengetahui rencananya, Totti bertindak. Di
sekujur lapangan stadion Olimpico, ia berlari dengan memakai kaos bertuliskan “Bebaskan Giuliana.” Selang beberapa hari, Sgrena dibebaskan. Lalu Dunia memberitakannya tanpa tahu yang sebenarnya terjadi. Seperti pengakuan Sgrena, salah satu penculik itu ternyata melihat tingkah Totti saat menonton pertandingan Seri-A. “Orang itu adalah pemuja Totti dan hatinya jadi trenyuh menyaksikan dedikasi Totti untuk seorang wanita,” ucapnya.

Totti merupakan campuran kelembutan dan eksibionis, homophilia dan machoisme. Delapan menit jelang usai partai Roma vs Parma, yang berbuah gelar scudetto pada 2001, tifosi Roma menyerbu lapangan. Yang diincar, jelas, apapun yang ada di tubuh gladiator pujaannya. Totti memohon satu yang tak mereka ambil, demi Kehormatannya: celana dalam! Buat sebagian besar wanita, sejak kejadian itu, mereka banyak memburu majalah resmi AS Roma, Il Romanista, sebagai teman tidur. Yang diharapkan mereka jelas: seluruh artikel dan foto-foto Hotti Totti, si simbol seks Italia.

Totti disenangi segala kalangan. Di Tokyo ada banyak grup penggemar Totti. Di Ankara berdiri sebuah website Totti. Totti pula, bukan David Beckham, yang diidolakan penyanyi Inggris kelahiran Manchester, Robbie William. Pada forum ekonomi dunia, Pele menyebut duta UNICEF itu sebagai salah satu pemain
terbaik dunia. Totti di Roma jauh lebih hebat ketimbang di Azzurri. Di tim nasional, dari 55 kali main Totti tak lebih dari 10 bikin gol. Walau demikian dia tetap menjadi jimatnya Marcello Lippi, tasbih atau rosario-nya. “Dia adalah satu-satunya pemain yang bisa mengubah keadaan.”

Dunia Totti dimulai saat ia membawa bola menuju gawang. Basta!

One response to “Totti The Last Gladiator

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: